Sebuah Blog Pribadi Biasa

Legenda Pendekar Merpati Bagian 6

Sekitar 15 menit berjalan, Tedy menemukan kerumunan orang yang sedang berkumpul di sebuah lapangan yang luas. Ia melihat banyak burung merpati yang sedang terbang, seperti mengadu kecepatan. Tedy menjadi penasaran, ia kemudian mendekati kerumunan manusia tersebut.

"Maaf Mas, kok di sini ramai sekali. Ada apakah gerangan?", tanya Tedy kepada seseorang.

"Di sini sedang ada perlombaan balapan merpati. Yang menang akan mendapatkan hadiah", jawab seorang tersebut.

"Judi atau bukan nih?", tanya Tedy lagi.

"Ya enggaklah! Pendaftarannya kan gratis. Dan hadiahnya bukan berasal dari uang ataupun barang yang dikumpulkan dari tiap kontestan. Jadi tidak ada yang dirugikan kalau kalah".

"Lalu siapa yang memberikan hadiahnya?".

"Pak Mukidi, dia orang kaya di sini. Ia sengaja mengadakan perlombaan seperti ini untuk merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke-25 tahun".

Sejenak Tedy meneteskan air matanya. Ia terharu karena ada orang kaya yang dermawan seperti Pak Mukidi.

"Lalu apa hadiahnya kalau bisa menang?", tanya Tedy lagi.

"Juara pertama akan mendapatkan 5 dinar emas, juara kedua akan mendapatkan 3 dinar emas, dan juara ketiga akan mendapatkan 1 dinar emas. Sedangkan bagi peserta yang tidak menang akan mendapatkan minuman kaleng 1 lusin."

"Wow boleh juga nih. Uang sebesar 5 dinar emas sudah cukup untuk beli kambing sebanyak 4 sampai 5 ekor", pikir Tedy.

"Makanya mendingan situ ikutan saja!", balas orang itu.

"Kalau Mas sendiri bagaimana? Apakah ikutan juga?", tanya Tedy lagi.

"Saya tidak ikutan. Soalnya saya sendiri yang mengadakan kompetisi".

"Maksudnya?", tanya Tedy lagi.

"Saya lah orang yang bernama Pak Mukidi tersebut", jawab orang itu lagi.

"Jiahhhh..., kenapa gak ngomong dari tadi kalau ternyata Anda ini adalah Pak Mukidi?" 

"Saya hanya ingin lebih low-profile saja Mas", jawab Pak Mukidi.

"Ohhh... Jadi begitu yah!? Oh ya, nama saya Tedy Farison. Senang berkenalan dengan Bapak", ujar Tedy.

Pak Mukidi tampak menitikkan air matanya. Ia terharu karena berhasil membuat Tedy tidak mengenali siapa dirinya. Ia bangga sekali akan kemampuan menyamarnya tersebut.

"Bagaimana, apakah nak Tedy mau ikutan lomba juga?", tanya Pak Mukidi.

"Sepertinya saya akan ikut Pak!", jawab Tedy.

"Baiklah kalau begitu. Hemmm selamat mengikuti lomba ini dan semoga menang yah! Saya mau ke sana dulu".

Tedy memang tertarik untuk mengikuti perlombaan tersebut. Kebetulan ia baru saja memiliki sepasang merpati pemberian dari Pak Susanto. Tapi Tedy kebingungan karena ia tak melihat sepasang merpatinya di sekitar tempat itu. Ia pun kebingungan bagaimana cara memanggil sepasang merpati tersebut.

Namun ia teringat dengan tongkat bambu yang diberikan oleh Pak Susanto tadi. Ia mengeluarkan tongkat tersebut dari balik pakaiannya. Ia melihat ada sebuah lubang di salah satu ujung tongkat tersebut. Lalu ia meniup lubang tersebut.

"Suitttttt..... Suitttt..... Suittttt.....", tongkat itu mengeluarkan bunyi yang cukup merdu.

Tiba-tiba saja datanglah sepasang merpati tersebut dari atas dan mereka langsung hinggap di kedua pundak Tedy. Ia mengambil dan mencengkram erat merpati betina. Kemudian ia menoleh ke merpati jantan.

"Hey merpati jantan! Aku hendak mengikuti perlombaan balap merpati. Dan kau yang akan balapan pada hari ini. Kalau kau sampai kalah, maka merpati betina ini akan kujadikan sate!", Tedy berpura-pura mengancam.

Merpati jantan itu hanya bisa mengangguk, namun air matanya berlinang. Ia takut jika kekasihnya akan menjadi sate. Setelah bernegosiasi dengan merpati tersebut, Tedy mendekati panitia perlombaan untuk mendaftar menjadi peserta lomba.

Singkat cerita, ia mengikuti setiap babak, mulai dari babak penyisihan sampai akhirnya ia berhasil masuk ke babak final.

"Hadirin sekalian. Tiba saatnya kita akan menyaksikan babak final pada perlombaan balap merpati kali ini. Kita sambut kedua finalis kita dengan tepuk tangan yang gemuruh!"

Semua penonton bertepuk tangan sambil menari-nari. Mereka sangat antusias menyaksikan babak final tersebut.

"Kita sambut finalis kita, yang pertama "Fitri", dan yang kedua "Tedy Farison".

Kedua finalis tersebut maju ke depan. Mereka sejenak berbicara satu sama lain. Walaupun keduanya akan bertanding untuk menjadi yang terbaik. Tetapi ternyata keduanya sama-sama saling menyukai. Dari sinilah tumbuh benih-benih cinta di antara kedua insan ini.

"Aku pasti menang, dan kau akan kalah!", ucap Tedy.

"Tidak mungkin, aku lah yang akan menang!", balas Fitri.

"Bagaimana kalau aku yang menang?", tanya Tedy.

"Kalau kau yang menang, maka kau boleh menikahiku. Tetapi jika aku yang menang, maka aku rela dinikahi olehmu", jawab Fitri.

Jawaban Fitri cukup berbelit, padahal intinya sama saja. Siapapun yang menang, maka keduanya tetap menikah.

Akhirnya babak final dimulai. Panitia mulai mengitung mundur dari hitungan ke lima ratus sampai menuju hitungan nol.

"Tiga... Dua... Satu....  Mulaiiii !!!", teriak panitia.

Kedua finalis melepaskan merpati masing-masing. Kedua merpati harus menempuh jarak sekitar 200 meter untuk mencapai garis finish. Di tengah jalan, kedua merpati tersebut sempat mengobrol dan bertukar pikiran tentang isu-isu terbaru di tanah air. Setelah meempuh jarak yang tidak terlalu jauh, akhirnya merpati Tedy yang duluan mencapai garis finish.

"Hadirin sekalian, kita telah mengetahui siapa pemenang lomba balap merpati kali ini. Sambutlah saudara Tedy Farison sebagai yang terbaik", ujar panitia lomba.

Semua penonton bertepuk tangan dan menangis karena terharu dengan perjuangan Tedy Farison yang gigih dan menakjubkan.

"Pendekar Merpati...!!! Pendekar Merpati...!!!", semua orang berteriak.

Ya, karena kecerdasannya dalam mengendalikan burung merpati, dan karena kehebatannya dalam memenangkan lomba balap merpati, maka semua orang menjulukinya sebagai "Pendekar Merpati". Namanya kelak menjadi termasyur, melegenda dan mengguncang dunia persilatan.

Tedy kemudian mendapatkan hadiah berupa 5 dinar emas karena telah menjadi juara 1, dan Fitri mendapatkan 3 dinar emas karena meraih juara 2. Sesuai kesepakatan, ia pun akan menikah dengan Fitri. Keduanya menangis karena akan segera melepas masa lajang mereka. Semua penonton pun ikut terharu dan menangis bahagia.

Singkat cerita mereka menikah di desa Gundah Menderu. Mereka kemudian beternak merpati dan berjualan parfum isi ulang, demi mengharumkan desa mereka.


>>>>> TAMAT <<<<<






Tag : Fiksi
2 Komentar untuk "Legenda Pendekar Merpati Bagian 6"

Akhirnya Tedy mendapat julukan pendekar merpati, dan mendapat hadiah sekaligus akan menikah dengan Fitri. Sebuah penjuangan yang melelahkan dan endingnya pun menyenangkan.

Jodoh ga akan keman ya mbak? Hehehe

Mohon agar tidak menyertakan link aktif saat berkomentar!

Back To Top