Sebuah Blog Pribadi Biasa

Legenda Pendekar Merpati Bagian 5

Langkah demi langkah, Tedy Farison menapaki jalan dengan penuh sumringah. Setelah berjalan sekitar 5 menit, ia mendapati sebuah warung kopi yang minimalis. Tampak beberapa orang pria sedang minum kopi, merokok sambil mengobrol. Sedangkan di bagian dalam terdapat seorang wanita cantik yang sedang memasak air untuk membuat kopi bagi pelanggan. Wanita itu berambut panjang dan agak pirang, bibirnya tipis, kulitnya kuning langsat, matanya hitam memakai baju panjang dari atas ke bawah berwarna biru dan juga memakai syal di lehernya

Tedy menghampiri warung kopi tersebut, ia duduk di sebuah bangku dan di depannya ada sebuah meja. Tedy mengacungkan tangannya ke atas kemudian ia berdendang...

"Cobalah Dik, minta kopi susunya. Kalau ada dengan kue pisangnya...", Tedy bernyanyi.

"Tunggu dulu airnya belum masak. Sabar saja hanya tunggu sebentar...", gadis itu membalas nyanyian Tedy.

Sambil menunggu wanita itu membuat kopi. Tedy mengambil tongkat yang diberikan Pak Susanto di tengah perjalanannya tadi. Ia masih bertanya-tanya sebenarnya tongkat tersebut memiliki rahasia apa di dalamnya.

Saat Tedy sedang sibuk melihat-lihat tongkat misterius tersebut, si wanita pemilik warung kopi tersebut ternyata memperhatikan Tedy. Ia tampaknya terpesona dengan penampilan Tedy yang menawan.

"Oh... betapa tampannya pemuda itu", ucap gadis tersebut di dalam hatinya.

Saat Tedy menengok ke arah gadis tersebut, sontak saja gadis itu kaget dan langsung memalingkan pandangannya ke arah kompor gas. Saat itu pula Tedy bisa mencuri pandang, dan ia memperhatikannya gadis cantik tersebut.

"Oh... betapa cantiknya gadis itu", pikir Tedy di dalam hati.

Setelah sekitar 3 menit, gadis itu menghidangkan segelas kopi panas dan kue pisang ke hadapan Tedy. Ia menaruhnya di atas meja.

"Ini kopi dan kue pisangnya, Pak!".

"Jangan panggil 'Pak', panggil saja 'Mas'! Kalau boleh tahu siapakah nama Adinda yang cantik jelita ini?".

"Nama saya 'Yona' Mas!", gadis itu tersipu malu.

"Oh..., nama yang cantik, sama seperti orangnya", puji Tedy.

Tedy meneteskan air matanya. Ia tak menyangka bisa berkenalan dengan gadis secantik Yona.

"Ah bisa saja memuji, gombal deh! Kalau nama Mas ini siapa ya?", tanya gadis itu.

"Nama saya 'Tedy Farison'. Panggil saja 'Mas Tedy' biar lebih akrab", jawab Tedy.

"Nama yang keren, sama seperti orangnya".

Yona juga ikut meneteskan air matanya. Ia juga tak menduga bisa berkenalan dengan pria tampan seperti Tedy.

"Ah Adik ini bisa saja memuji".

"Ya udah silahkan dinikmati hidangannya Mas!".

"Iya, terima kasih yah!".

Gadis itu ternyata malah duduk di depan Tedy. Ia memperhatikan Tedy yang sedang meminum kopi dan makan kue pisang. Matanya tak beralih pandangan, sepertinya ia sangat mengagumi Tedy. Ia mengibaskan rambutnya yang panjang itu ke sebelah kiri, tentu saja membuat Tedy terperangah.

"Maaf, kalau boleh tahu Adik ini masih single atau sudah berkeluarga?".

"Saya masih single sih, sampai sekarang belum ketemu jodoh Mas".

"Gadis secantik Adik ini harusnya sudah ada gandengan".

"Saya biasanya gandeng gerobak Mas".

"Ada-ada saja Adik ini. Ngomong-ngomong, sudah lama buka warung kopi di sini?".

"Baru dua bulan Mas. Dulu saya buka salon sih, tapi sepi banget".

"Ohhh. Berarti Adik ini jago memotong rambut orang. Dulu pernah ikut kursus atau pelatihan tata rias rambut ya?".

"Enggak sih. Saya dulunya hobi memotong rumput".

"Hehehe ada-ada saja. Udah cantik, jago masak, pinter motong rambut pula. Pria mana yang tak tertarik sama Adik ini", puji Tedy.

"Ahhh Mas Tedy bisa saja memuji. Saya sih dulunya lebih jago membobol ATM dan merusak kunci stang motor orang".

Tedy kembali meneteskan air matanya. Ia tak menyangka bisa berkenalan dengan mantan maling.
 
"Saya serius loh Mas. Ngomong-ngomong Mas Tedy ini sudah berkeluarga atau belum".

"Belum sih. Kenapa? Situ mau sama saya?".

"Hehehe ya itu pun kalau Mas Tedy mau sama saya", jawab Yona.

"Kan baru kenal? Dik Yona juga belum tahu siapa saya".

"Biarkan waktu yang akan membuat kita saling mengenal Mas", terang Yona.

"Hemmm benar juga yah", balas Tedy.

Yona tak kuasa lagi menahan air mata keharuan. Ia terharu karena cepat akrab dengan Tedy. Ia yakin bahwa Tedy adalah pria terbaik untuknya. Ia kemudian menghapus air matanya dengan syal yang melingkar di lehernya.

Namun seketika saja Tedy semakin kaget, ternyata di leher gadis itu ada tonjolan sebesar biji duren. Ya, itu buah jakun! Buah yang tak bisa diperdagangkan. Buah yang bisa bergerak naik turun di leher. Buah yang tak bisa dimakan. Buah yang bisa merubah suara lebih jantan.

"Dik, yang dilehermu itu buah jakun yah?", tanya Tedy.

"Bukan, ini cadangan makanan Mas! Hihihi", jawab Yona.

"Kamu bukan cewek tulen yah?".

"Saya cewek kok!".

"Ahhh... Kamu bohong! Itu ada buah jakun di lehermu!".

"Aku cewek, Mas!".

"Kamu pasti cowok!", balas Tedy.

"Setengah cewek dehhh", balas Yona lagi.

"Kalau cowok ya tetap cowok!".

"Setengah cowok dehhh", Yona masih ngotot.

"Gak ada istilah setengah cowok atau setengah cewek!", timpal Tedy lagi.

"Jangan gitu Mas, nanti lama-lama jadi suka loh!".

"Ahhh enggak, saya masih normal kok!".

"Yang bener Mas? Apakah Mas Tedy tidak tergiur dengan kecantikan Yona?".

"Kamu tuh cowokkk", teriak Tedy.

"Lama-lama Mas Tedy akan terbiasa kok. Katanya tadi mau membina rumah tangga sama aku?", ujar Yona.

"Haram jadah!!!", balas Tedy.

Tiba-tiba saja si Yona yang secara lahiriah merupakan kaum Adam namun berperawakan seperti Cleopatra ini menangis karena ucapan Tedy tersebut.

"Hiks... hiks.... hiks...".

"Kamu nangis bro?", tanya Tedy.

"Wanita mana yang tak sedih jika perasaannya disakiti", ucap Yona.

"Kamu tuh lanang woy!!! Ya sudah, berapa harga kopi dan kue pisangnya? Saya mau pergi lagi", kata Tedy.

"Gak usah dibayar! Pergilah jauh, jangan ke sini lagi!".

"Ya udah makasih banyak bro. Siapa juga yang mau balik ke sini lagi".

"Pergiiiii...!!!", teriak Yona sambil menangis.

"Iya, saya pergi sekarang!", teriak Tedy.

Tiba-tiba Tedy kembali meneteskan air mata lagi. Ia sedih karena dari tadi hanya membuang-buang waktu di warung kopi tersebut. Apalagi ternyata gadis cantik yang direkomendasikan oleh Pak Susanto tadi adalah makhluk yang hidup di dua alam. Ia melanjutkan perjalanannya kembali dan berharap tidak menemukan hal-hal yang memberikan mudharat.




>>>>> Bersambung lagi yah <<<<<
Tag : Fiksi
6 Komentar untuk "Legenda Pendekar Merpati Bagian 5"

Hahaha, di bagian 5 ini seru, Tedy nasib kamu kurang baik hari ini, coba lagi di warung kopi sebelah siapa tahu dapat wanita tulen. :)

Kalau di dalam fiksi dia gak suka cowok setengah mateng mbak. Tapi aslinya dia suka loh. tedy kan teman saya mbak. Saya pake namanya untuk fiksi kali ini

Itu ceweknya biasaan becandanya ya.haha
Semakin baca, semakin penasaran seperti apa cantiknya ini cewek, ealah masal cowok ternyata.. Kalau gak lihat jakunnya bisa jadi gimana ya.hehe

Seru ini ceritanya, Mas. Aku coba tengok ke cerita sebelumnya ahh :)
Salam kenal ya :)

Hahaha silahkan mas Andi. semoga betah membaca fiksi yang aneh ini :)

duh Yona yang konon kecantikannya bak Cleoparta, sayang sang jakun sulit disembunyikan dan membuat Tedy Farison buang muka. pilunya hati Yona
hehe

Tedy cuma jual mahal aja mbak, padahal aslinya mau sama yang begituan :)

Mohon agar tidak menyertakan link aktif saat berkomentar!

Back To Top