Sebuah Blog Pribadi Biasa

Legenda Pendekar Merpati Bagian 4

Pagi yang cerah, udara terasa sejuk dan menyegarkan. Tedy Farison berencana berkeliling desa untuk melihat-lihat suasana desa yang sudah lama tidak dilihatnya. Selama 10 tahun belakangan ini ia memang tidak sempat melihat-lihat perkembangan desanya. Karena ia masih berlatih di perguruan silat Gundah Menderu.

"Nak, sudah sarapan belum? Air berasnya kenapa belum dihabisin? Kolak kulit pisangnya dihabisin juga donk!", tanya Sheila.

"Iya Bu. Ini juga mau dihabisin kok! Pokoknya beres deh", balas Tedy.

Tedy menghabiskan makanan dan minuman yang masih tersisa. Ia sarapan pagi sambil sesekali menggaruk-garuk lantai. Setelah selesai sarapan pagi, ia mulai bersiap-siap berangkat. Ia memakai topi bundar berwarna hitam, jas hitam, dasi kupu-kupu dan pedangnya yang terbuat dari tembaga. Ia menaruh pedang itu di punggungnya seperti pendekar pada umumnya. Tak lupa ia membawa sedikit uang. Siapa tahu ia hendak membeli sesuatu di pasar nanti.

"Bu, aku keluar dulu ya. Mau jalan-jalan sebentar saja. Sudah kangen ingin keliling-keliling desa", ujar Tedy kepada Ibunya.

"Iya nak, hati-hati ya sayang", timpal ibunya.

"Beres Bu, ananda akan hati-hati".

Tedy pun berjalan sendirian sambil sesekali ia memutar-mutar tubuhnya seperti penari balet. Ia nampak begitu senang sekali. Matanya berbinar-binar, wajahnya berseri-seri, membuat semua makhluk di muka bumi ikut menari-nari.

Setelah berjalan cukup lama, kira-kira 2 kilometer, ia melihat ada lelaki tua yang duduk bersandar pada sebatang pohon nangka. Lelaki tua itu seperti sedang kelaparan dan tidak memiliki tenaga untuk berdiri karena tubuhnya sudah lemah. Tedy pun menghampiri pak tua itu.

"Bapak kenapa?", tanya Tedy.

"Saya lapar nak. Saya ingin makan buah nangka yang ada di pohon ini. Tapi saya tidak bisa menjangkaunya karena sudah tidak bertenaga", jawab Lelaki Tua itu.

"Oh.., baiklah akan saya ambilkan buah nangka itu untuk Bapak".

"Terima kasih ya nak!".

Tedy segera mencabut pedangnya dan ia melepaskan topinya sejenak. Ia mengeluarkan gerakan memutar-mutar pedangnya, kemudian ia mulai memanjat pohon nangka tersebut.

"Ciatttt....., slasss, slessss, slassss", Tedy memotong tangkai buah nangka.

Seketika saja buah nangka itu langsung jatuh ke bumi. Tedy pun langsung turun ke bawah dengan sekali melompat. Ia kembali mengayunkan pedangnya ke arah buah nangka tersebut.

"Ciatttt...., dabbbb, debbb, dabbb", Tedy membelah buah nangka tersebut menjadi dua bagian.

Pak tua itu kaget bukan main, ia tak menyangka bisa menikmati buah nangka yang lezat itu pada hari tersebut.

"Silahkan dimakan Pak!", ucap Tedy.

"Iya nak, terima kasih. Kamu baik sekali".

Lelaki tua itu segera menyantap buah nangka tersebut. Ia menghabiskan semuanya tanpa tersisa. Tedy beberapa kali menelan ludah saat melihat lelaki tua itu sedang makan buah nangka. Sebenarnya lelaki tua itu tahu bahwa Tedy sebenarnya ngiler kepengen menikmati buah nangka juga, tapi ia pura-pura tidak tahu saja.

"Wah sudah habis ya Pak?", tanya Tedy

"Hehehe iya nak. Maaf kebablasan nih. Soalnya Bapak lapar sekali".

"Tidak apa-apa Pak", Tedy membalas.

"Sebagai tanda terima kasihku kepadamu, aku akan memberikan sesuatu yang tidak seberapa tapi mungkin bisa berguna untukmu nanti", ujar lelaki tua itu.

Sejenak lelaki tua itu menengok ke atas langit, ia kemudian bersiul dengan dengan jari telunjuk dan jempolnya.

"Huttt..., huttt...., huttt....", bunyi siulan lelaki tua itu.

Dari atas muncul 2 ekor burung merpati melayang-layang di udara. Mereka terbang dengan gerakan memutar beriringan membentuk spiral. Makin lama gerakan itu makin menuju ke bawah dan kedua merpati itu akhirnya menapak ke bumi.

"Nak, sepasang merpati ini akan ku berikan kepadamu. Mereka bukan merpati biasa, kelak kau akan membutuhkan bantuan mereka. Sepertinya kau adalah seorang pendekar, maka dari itu aku dengan senang hati menyerahkan mereka kepadamu. Sepasang merpati ini saling mencintai, maka dari itu jagalah mereka", terang lelaki tua itu.

"Baiklah Pak! Aku akan menerima kedua merpati ini", balas Tedy.

"Dan aku masih punya sesuatu lagi untukmu nak. Tunggu sebentar yah".

Bapak tua itu merogoh-rogoh kantong bajunya. Cukup lama juga ia mencari sesuatu dari dalam kantong bajunya tersebut. Tak lama kemudian ia mengeluarkan beberapa barang dari dalam kantong bajunya. Ia mengeluarkan laptop, lalu kipas angin, gitar listrik, kemudian arloji. Sepertinya lelaki tua ini adalah kerabat dekat Doraemon.

"Aku tak menyangka kalau Bapak akan memberikan barang-barang berharga ini kepadaku", ujar Tedy sambil meneteskan air matanya karena terharu.

"Bukan nak, barang-barang ini akan saya jual untuk modal usahaku nanti".

"Lalu apa yang akan Bapak berikan kepada saya?", Tedy bertanya lagi.

Bapak itu mengambil sesuatu dari sisi kanan tempat duduknya. Sebuah benda yang terbuat dari bambu dengan panjang sekitar 30 cm dan berdiameter sekitar 2 cm, dan terdapat 1 lubang di salah satu ujungnya.

"Ini ambillah! Aku berikan tongkat ini kepadamu. Kau pasti akan membutuhkannya".

"Baiklah Pak, aku terima tongkat ini", Tedy kembali meneteskan air matanya.

Di dalam hati Tedy meyakini bahwa tongkat tersebut adalah senjata rahasia yang hanya bisa didapatkan oleh orang-orang tertentu saja.

"Oh ya, namamu siapa, nak?".

"Namaku Tedy Farison, Pak!".

"Nama yang keren dan modern sekali hiks... hiks...", Bapak tua itu menangis karena terharu.

"Kalau nama Bapak siapa?", tanya Tedy.

"Susanto, nak!", jawab lelaki tua itu.

"Nama yang pasaran sekali, Pak", timpal Tedy lagi.

Tedy tampak meneteskan air mata kembali. Ia tak menyangka bahwa banyak sekali orang yang bernama Susanto di dunia ini.

"Nak Tedy sebenarnya mau kemana?".

"Saya hanya ingin berjalan-jalan keliling desa saja, Pak".

"Nak Tedy sudah berkeluarga?".

"Belum Pak. Saya mau fokus ke karir dulu".

"Oh..., begitu yah? Padahal di warung kopi sana ada seorang gadis cantik loh. Dia masih lajang dan belum ada satupun lelaki yang mampu menjinakkan dirinya".

Tedy tampak penasaran untuk melihat gadis cantik itu. Bahkan ia tertantang untuk menaklukkan gadis itu. Selama ini belum pernah ada wanita yang menolak cinta dari Tedy, wajar saja karena ia memang belum pernah sekalipun mengutarakan cinta kepada gadis manapun.

"Saya pamit dulu ya Pak! Mau minum kopi di warung sana".

"Oh..., ya sudah silahkan lanjutkan perjalananmu, nak!".

"Baiklah, Pak! Kalau begitu saya mohon diri. Assalamu'alaikum!".

"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan yah nak!".

"Beres deh! Tenang saja!".

Tedy pun meninggalkan Pak Susanto. Ia tak kuasa menahan air matanya. Sepertinya ia sangat terkesan atas perjumpaannya dengan Pak Susanto tadi. Ia melangkah namun dengan langkah yang berat. Sangat disayangkan sekali keduanya harus berpisah. Sedangkan sepasang merpati tadi terbang tidak jauh dari Tedy. Mereka hanya terbang di sekitarnya saja, karena kini mereka memiliki tuan yang baru.

Melihat Tedy mulai melangkah sekitar 5 langkah, Pak Susanto menjadi sangat sedih sekali. Ia mengambil biola dari kantong bajunya. Kemudian ia memainkannya dengan irama kepiluan. Air matanya berderai sampai masuk ke mulutnya, walau agak asin.

Mendengar suara biola yang bernada pilu, melankolis dan romantis itu, Tedy pun tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia menangis tersedu-sedu dan meraung-raung sambil memegang kepalanya dengan kedua tangaannya. Namun ia masih bisa melangkahkan kakinya kembali. Sangat mengharukan sekali.



>>>>> Bersambung lagi <<<<<
Tag : Fiksi
10 Komentar untuk "Legenda Pendekar Merpati Bagian 4"

Hahaha, Tedy.. Tedy dengar biola saja kok nangis atau jangan-jangan ada memori dibalik biola.

Semua orang yang ada di dalam cerita ini sangat mudah terharu mbak, jadi mereka sangat cepat mengeluarkan air mata. Pada gak waras semua... :)

Tedy Farison mengambil buah nangka untuk pak tua
dan pak tua yang bernama Susanto memberi imbalan
apakah gadis warung kopi akan memikat Tedy,
oh ya pak Susanto punya kantong ajaib ya hehe .. jadi ingat dora emon

Saya yakin kalau Tedy bisa memikat gadis tersebut, soalnya Tedy agak tampan. Itu menurut pengakuan dia sendiri. Hehe

Gan kantongnya kok muat ya buat naruh biola ? Kantungnya gede ya

ceritanya benar2 menggugah simpatik nih

Namanya juga fiksi humor gan, ada hal-hal aneh yang bisa dimunculkan hehe

Wkwkwk lucu nama ibunya Sheila ky nama ABG gaul, ditambah lagi kantong doraemonnya makin lucu! Jangan2 ini pendekar keturunan Malih tong tong atau gak Komeng hihiii

Mantap sob, lanjutkan..

Mohon agar tidak menyertakan link aktif saat berkomentar!

Back To Top