Sebuah Blog Pribadi Biasa

Legenda Pendekar Merpati Bagian 3

Di dalam gubuk, Sheila sedang mengikuti SKJ (Senam Kesegaran Janda) di televisi. Walaupun sudah berumur 43 tahun, namun ia bagaikan wanita yang baru berusia 42 tahun saja. Sheila mengikuti setiap gerakan senam di televisi sembari menunggu kedatangan anak tercintanya, Tedy Farison. Ia memang sudah diberi tahu oleh pihak perguruan silat Gundah Menderu bahwa hari ini anaknya akan pulang.

"Assalamu'alaikum", ucap seseorang dari balik pintu.

"Wa'alaikumussalam", jawab Sheila.

Sheila segera membuka pintu dan betapa kaget dirinya, ternyata di hadapannya ada orang asing yang tak dikenalinya.

"Maaf Anda siapa ya?", tanya Sheila.

"Jiahhhh, aku ini Tedy Farison, anakmu Bu!", jawab Tedy.

"Wah yang benar? Oh anakku sayang, ternyata kau pulang juga nak".

"Iya, sudah 10 tahun kita tidak bertemu ya Bu".

"Kamu semakin gemuk saja nak. Pasti kamu ngabisin banyak beras di perguruan silat ya kan?".

"Ah ibu..., tebakannya suka benar deh".

"Sheila gitu loh. Ibumu ini tahu segalanya tentang kamu".

"Tedy jadi bangga nih sama ibu, hiks... hiks...", Tedy terharu dan meneteskan air matanya.

"Ayo masuk ke dalam! Ibu akan buatkan kopi susu untukmu dulu".

"Baiklah Bu".

Sheila ke dapur, ia mengambil sesendok kopi bubuk dan dua sendok gula pasir. Lalu ia menuangkan air panas dari termos ke dalam gelas. Kemudian ia menuju ke kandang sapi untuk menambahkan susu murni. Setelah ia selesai memeras susu sapi, ia masuk lagi ke dalam gubuknya dan menghidangkan kopi susu tersebut untuk anaknya.

"Minumlah nak. Kamu pasti kangen dengan kopi susu buatan ibu, ya kan?".

"Iya Bu. Ngomong-ngomong, sejak kapan ibu memelihara sapi?".

"Sejak kamu meninggalkan rumah ini nak. Ibu sengaja membeli dan memelihara sapi supaya ibu tidak kesepian. Jadi kalau ibu sedang kesepian, ibu akan bermain dan ngobrol dengan sapi itu".

"Sangat mengharukan sekali, hiks... hiks...", Tedy kembali meneteskan air mata.

Tedy cukup lama berbincang-bincang dengan ibunya. Mereka berencana mengadakan syukuran atas pulangnya Tedy Farison. Banyak acara yang diselenggarakan, mulai dari lomba baca puisi, lomba pidato, sampai lomba panjat pohon salak.

Suara musik pun tak berhenti selama 3 hari 3 malam. Ibunya sengaja mendatangkan 7 biduanita dari ibukota dan juga band pengiringnya. Tak pernah diduga bahwa kepulangan Tedy Farison akan disambut menjadi sangat meriah seperti ini.

Banyak sekali warga desa yang antusias untuk melihat Tedy Farison dari dekat. Mereka berbondong-bondong datang dari rumah menuju tempat diadakannya pesta syukuran ini. Ada yang duduk di bawah tenda, ada yang berdiri karena kehabisan kursi, dan ada pula yang sampai memanjat pohon agar bisa melihat dari atas.

Dan acara yang dinanti-nantikan pun tiba. Tedy Farison naik ke atas panggung dengan ditandu oleh empat orang pria. Warga sudah banyak yang bertepuk tangan, bersiul dan melantunkan puji-pujian yang ditujukan kepada Tedy.

Setelah Tedy turun dari tandu, ia diminta untuk memberikan pidatonya. Sontak saja warga bersorak-sorai dan makin histeris saja. Sampai-sampai ada yang menggigit kuku jari tangannya karena saking histerisnya.

"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh!", Tedy memulai pidatonya dengan salam.

"Wa'alaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh", semua orang menjawab dengan serentak.

"Hadirin sekalian, marilah kita semuanya menumbuhkan kesadaran diri di dalam pembangunan desa. Karena itu akan memfasilitasi keutuhan nasionalisme. Bumi semakin bergejolak di dalam rotasi. Maka dari itu setiap kita mesti bekerjasama agar lebih menjadi sangat kritis dan aktual. Bukan tidak mungkin ancaman bisa terjadi secara konkrit. Itulah mengapa kita membutuhkan keadaran diri yang menjulang dan bermartabat. Terima kasih".

Warga kembali bertepuk tangan dengan riuh. Mereka baru kali ini mendengar sebuah pidato yang sangat berbobot.

"Hidup Tedy Farison....! Hidup Tedy Farison...!", semua orang menyerukan namanya.

Tedy tampak meneteskan air mata kebahagiaan. Ia tak menyangka akan dicintai semua orang di desa tersebut.

Seorang lelaki naik ke atas panggung sambil membawa sesuatu. Ia ternyata Bapak Kepala Desa. Ia hendak memberikan sebuah penghargaan berupa gelar kehormatan bagi Tedy Farison.

"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh!", Pak Kades mengambil alih acara tersebut.

"Wa'alaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh", semua orang menjawab salam beliau.

"Sebelumnya saya mohon maaf karena telah menyabotase acara pada malam hari ini. Saya selaku Kades di sini hanya hendak memberikan sesuatu kepada pemuda terbaik di desa ini berupa sebuah gelar kehormatan. Saya akan memberikan gelar 'Dang Raden' kepada Tedy Farison. Gelar kehormatan ini setara dengan kedudukan Ibu Kades. Semoga nantinya gelar ini dapat memotivasi anak-anak di desa ini untuk menjadi seperti Tedy Farison".

Pak Kades kemudian mengalungkan sebuah medali ke leher Tedy dan memberikan sebuah plakat serta piagam yang dibingkai. Sekarang Tedy Farison telah resmi mendapatkan gelar "Dang Raden" di depan namanya. Sehingga nantinya ia dipanggil dengan nama "Dang Raden Tedy Farison", atau bisa disingkat "DR. Tedy Farison". Setelah selesai, Pak Kades pun kembali turun dari panggung dan menuju tempat duduknya semula.

Serentak semua orang yang menyaksikan menjadi terharu. Tak ada yang mampu menahan tetesan air mata. Mereka bangga sekali dengan prestasi Tedy Farison. Bagi mereka, tiada hal yang lebih indah di malam itu kecuali melihat pemuda terbaik di desa mereka.

Acara kemudian dilanjutkan dengan nyanyian dari para artis ibukota. Semua warga berjoget ria, namun tak ada yang mabuk-mabukan di sana. Mereka lebih memilih mabuk laut karena tidak akan mengganggu orang lain. Di akhir acara, semua warga berbaris rapi dan mengantri untuk bersalaman dengan Tedy Farison. Setiap warga kemudian diberikan kenang-kenangan berupa poster karikatur Tedy Farison dan 1 renceng kopi sachet. Kemudian acara pun berakhir, semua warga kembali ke rumah masing-masing. Sungguh malam yang sangat luar biasa sekali.

Tedy Farison kini tercatat sebagai manusia yang tersukses dalam hal mengumpulkan massa di sebuah desa. Beberapa media sempat meliput dan melaporkan fenomena Tedy Farison ke penjuru negeri. Banyak orang terinspirasi. Bahkan para lansia pun berkhayal ingin dilahirkan kembali agar dapat menjadi seperti Tedy Farison. Memang terdengar berlebihan, tetapi itu adalah cita-cita yang mulia dan bermartabat.


>>>>> Bersambung kayaknya nih <<<<<



Tag : Fiksi
14 Komentar untuk "Legenda Pendekar Merpati Bagian 3"

Tedy luarbiasa, mungkin karena kopi susu buatan ibu apalagi susu yang dibuat susu murni asli perasan sendiri, Tedy tumbuh jadi pemuda cerdas.

Nah di akhir acara itu di kasih serenteng kopi sachet, coba kalau saya ada pasti ikut bersorak senang karena dapat kopi gratis. Hehe

Tak tunggu kelanjutannya.

hahaha sebenarnya dia tidak luar biasa, tapi agak gak waras mbak

Bersambung ada bagian 4 kah?

nice cuman bersambung... nungu kelanjutannya gan....

baca dulu bagian 1 nya ah, malah nemu bagian 3

boleh, silahkan ditunggu mas

Teddy akhirnya pulang dari Padepokan, saat ibunda sedang senam SKJ, tentu saja ibunda sangat senang dan segera menyajikan kopi susu dari susu murni yang di perah langsung dari sapi yang menjadi sahabat ibunda Tedy

Dan mendapat penghargaan sekelas Bu Kades Dang Raden Tedy Farison

saya juga mau ucapkan selamat untuk Dang Raden Tedy Farison

semoga bersambung ya... dan saya tidak terlambat seperti bagian tiga ini

masalahnya saya bingung dengan lanjutan ceritanya mbak, tapi diusahakan seaneh mungkin hehe. Terima kasih

Mohon agar tidak menyertakan link aktif saat berkomentar!

Back To Top