Sebuah Blog Pribadi Biasa

Legenda Pendekar Merpati Bagian 2

Setelah melahirkan, Sheila sangat perhatian sekali dengan anaknya tersebut. Ia memberikan kasih sayang yang tanpa batas kepada Tedy Farison. Tak pernah ia membiarkan anaknya kelaparan dan kehausan. Ia menyediakan air beras sebagai nutrisi tambahan bagi anak yang ia cintai itu. Sampai tiba saatnya Tedy Farison berusia dua belas tahun telah menjadi anak yang gagah dan cerdas, dan tentunya sudah tamat pendidikan Sekolah Dasar.

Ibunya Tedy memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan anaknya ke tingkat yang lebih lanjut. Ia beralasan karena sudah banyak sekali orang yang mengisi di setiap bidang. Sudah banyak dokter, sudah banyak perawat, sudah banyak menteri, sudah ada presiden, sudah banyak polisi, sudah banyak PNS, dan sudah banyak pengangguran. Jadi lebih baik mencari bidang yang sekiranya belum banyak terisi.

Kini Tedy diajari ibunya cara bercocok tanam, menyapu, mencuci, memasak, menjahit, bernyanyi dan menari. Terkadang Tedy juga disuruh ibunya  membuat anyaman daun ketupat. Sampai pada akhirnya Tedy tumbuh menjadi anak yang memiliki banyak bakat dan potensial. Ibunya tak pernah menyangka bahwa anaknya ini telah ditakdirkan untuk menjadi pendekar ternama yang mengharumkan desa Bimbang Menggelora.

Pagi itu Tedy kelihatan rapi sekali. Ia memakai jas hitam, dasi kupu-kupu, sepatu dari kulit biawak dan topi bundar hitam. Rupanya ia hendak menuju ke sebuah perguruan silat Gundah Menderu. Ia hendak belajar ilmu beladiri di sana dan berharap akan mendapatkan banyak teman baru. Sebuah langkah awal dan batu loncatan untuk menjadi seorang pendekar. Kebetulan sekali ibunya telah merestui keinginan Tedy. Tapi sebelum ia pergi, ia minta kepada ibunya untuk menjaga diri baik-baik, menjaga kesehatan dan selalu mendo'akan dirinya agar sukses menjadi seorang pendekar besar nantinya. Air mata pun tak dapat ditahan, isak tangis mengiringi keberangkatan Tedy. Maka pergilah ia menuju perguruan silat yang jaraknya hanya dua puluh meter dari rumahnya.

Setelah berjalan tidak terlalu jauh, sampailah ia di pondok pesantren, ehhh salah,,, maksudnya perguruan silat Gundah Menderu. Ia melihat banyak orang sedang berlatih silat di lapangan terbuka. Kira-kira jumlahnya tiga puluh orang yang sebagiannya adalah anak-anak sebaya dengan dirinya. Tedy mengamati mereka dengan rasa kekaguman. Ia sangat antusias untuk mengikuti latihan perdananya. Saat ia sedang asyik menonton latihan silat para anak muda tersebut, keluarlah seorang lelaki berjanggut putih sepanjang dada. Lelaki ini memakai pakaian menjulur ke bawah dengan warna hitam, rambutnya putih dan panjang sampai ke tulang belikat, memakai ikat kepala berwarna hitam, umurnya sekitar tujuh puluh tahun.

"Si kancil jalan-jalan sama si Beni. Hey anak kecil, sedang apa dikau di sini?", tanya orang tua itu.

"Si Beni sedang asyik bermain gulat. Saya di sini hendak berlatih silat", jawab Tedy.

"Bermain gulat menoleh ke kanan dan kiri. Berlatih silat boleh, apalagi berlatih menari", timpal orang tua itu lagi.

"Ke kanan dan ke kiri menjauh dari sunyi. Saya sudah bisa menari apalagi kalau menyanyi", Tedy terus membalas.

"Menjauh dari sunyi, mendesah dengan irama. Kalau sudah bisa menyanyi, kamu akan diterima".

"Mendesah dengan irama, menebar benih jangan dilupakan. Kalau memang diterima, terima kasih saya ucapkan".

"Menebar benih jangan dilupakan. Ucapkan salam kepada Sonya. Terima kasih telah diucapakan. Adakah lagi yang mau ditanya?".

"Ucapkan salan kepada Sonya. Salam yang sopan dan juga santun. Kalau saya boleh bertanya. Kapankah selesainya berbalas pantun?".

"Salam yang sopan dan juga santun. Beli tenda untuk berkemah. Cukup sudah berbalas pantun. Silahkan masuk ke dalam rumah".

"Terima kasih banyak guru".

Akhirnya selesai juga kegiatan berbalas pantun antara Tedy dan guru silat tersebut. Tedy masuk ke dalam rumah orang tua yang agak kurang waras itu. Di dalam rumah ia duduk di lantai dan di depannya terdapat meja kecil yang telah dihidangkan makanan ringan berupa kembang gula dan kopi pahit yang tidak diseduh dengan air panas karena gas elpiji sedang habis.

"Silahkan dimakan dan diminum nak!".

"Terima kasih guru".

Tedy pun memakan dan meminum hidangan yang telah disediakan untuk dirinya tersebut dengan pelan dan penuh penghayatan.

"Siapa namamu, nak?".

"Nama saya Tedy Farison, guru".

"Apa yang melatarbelakangimu sehingga ingin menjadi murid di perguruan silat di sini?".

"Saya ingin membantu semua orang, menegakkan kebenaran, membasmi kejahatan dan mengharumkan desa ini", Tedy menjawab dengan mata berkaca-kaca.

"Niat yang mulia sekali nak, hiks... hiks....".

Orang tua itu tampak terharu dengan jawaban Tedy sampai-sampai berlinang air matanya. Sesekali ia menghapus air mata dan lendir yang keluar dari hidungnya dengan lengan bajunya.

"Maaf jika saya telah membuat guru menangis".

"Tidak apa-apa. Kamu akan berlatih silat di sini selama sepuluh tahun. Apakah kamu siap?".

"Saya selalu siap. Kapan saya mulai berlatih silat?".

"Besok!".

"Baiklah kalau begitu. Terima kasih guru!".

"Sama-sama. Sekarang istirahatlah dulu! Kamu pasti capek sekali. Di sana ada kamar kosong. Kamu bisa istirahatlah di sana".

"Baiklah. Saya istirahat dulu ya guru".

"Iya, silahkan".

Tedy pun masuk ke kamar kosong tersebut. Ia meletakkan tas di lantai. Dan ia pun mulai beristirahat.

Keesokan harinya, ia pun mulai berlatih silat bersama teman-teman barunya. Ia berlatih dengan penuh semangat setiap hari. Sampai akhirnya ia tumbuh dan berkembang menjadi seorang pemuda rajin, gigih dan cerdik.

Singkat cerita, tak terasa 10 tahun pun berlalu. Ia kini berusia 22 tahun. Sekarang tingginya sekitar 175 cm, dengan berat badan 78 kilogram. Ia memang bertubuh agak gemuk, tapi tidak sampai obesitas.

"Nak, kau sudah berlatih 10 tahun di sini. Sekarang kau boleh pulang dan menemui ibumu. Dan segera wujudkan cita-cita yang telah kau impikan sejak dulu!".

"Saya sedih karena harus berpisah dengan guru dan teman-teman di sini. Tapi saya sudah tidak sabar lagi untuk membantu semua orang".

"Tunaikan kewajibanmu sebagai pendekar, nak!

"Baiklah guru. Saya akan segera menunaikan kewajibanku. Mohon do'a restu dari guru".

"Guru akan selalu merestuimu nak. Sekarang kemaslah barang-barangmu. Selama 10 tahun ini kau sudah bisa menciptakan bermacam-macam kreasi sarang laba-laba di kamar yang kau tinggali itu. Luar biasa sekali nak".

"Ahhh guru bisa saja memujiku. Aku memang senang melihat sarang laba-laba. Jadi aku biarkan saja mereka merajut jaring-jaring mereka di kamar. Saya tidak mau merusak karya mereka yang indah itu. Baiklah, saya mau segera mengemasi barang-barangku dulu".

Tedy menuju kamarnya dan segera mengemasi barang-barangnya. Ia kemudian menemui gurunya di ruang pertemuan untuk berpamitan.

"Guru, aku pamit dulu yah! Ibuku pasti sudah lama menungguku selama 10 tahun ini. Aku berjanji akan kembali ke sini suatu hari nanti".

"Hiks...hiks..., iya nak. Jaga dirimu baik-baik yah! Titip salam untuk ibumu yah. Ingat, jangan sombong dan lupa diri jika sudah menjadi pendekar besar!".

"Baiklah guru, saya akan berjanji dan tidak akan mengecewakan guru. Kalau begitu, aku pamit dulu yah!".

"Iya nak, hiks..., hiks...".

Tedy pun mulai meninggalkan perguruan silat yang telah berjasa mendidiknya selama 10 tahun ini. Ia berjalan langkah demi langkah, sesekali ia menoleh ke belakang dan dilihatnya banyak orang yang menangisi kepergiannya. Mereka melambaikan tangan ke kiri dan ke kanan secara serempak. Koreografi ini memang sengaja telah dibuat selama 1 minggu ini untuk melepas kepergian Tedy yang telah menamatkan pendidikannya di perguruan silat ini.

Setelah 20 meter berjalan, akhirnya Tedy sampai juga di rumah ibunya. Dan sebuah kejutan pun telah menantinya.


>>>>> Kemungkinan Bersambung <<<<<


Tag : Fiksi
8 Komentar untuk "Legenda Pendekar Merpati Bagian 2"

wah meski tidak sekolah formal Tedy tumbuh menjadi sosok yang cerdas, dan berkesempatan belajar silat di padepokan silat
aku rasa Tedy akan menjadi pendekar sejati jujur dan perkasa

semoga bersambung?!semoga saya bisa mengikuti cerita ini

Hehehe saya malah bingung mau ngelanjutin ceritanya gimana mbak.

Tedy meski tak sekolah tapi jadi anak terdidik oleh ibunya dan hal itu menjadikan Tedy lebih bisa mandari.

Dan kejutan apakah itu? Baik saya tunggu kelanjutannya, agar saya dapat notif saay update kelanjutannya tak follow deh blog ini. Hehe

Hehehe terima kasih sudah memfollow mbak. Insya Allah kelanjutannya akan diupdate segera.

Setelah pulang kerumah, Tedy berguru kembali, siang malam dia sibuk belajar jurus baru yaitu jurus ngeblog wkwkkwk

Ngakak waktu baca mereka melepas Tedy, masa ia pake koreografi segala hihii

Hehehe bisa saja, ternyata ada juga jurus ngebllog yah? Yah harus ada koreografinya juga mas hehehe

sekolah formal memang hanya sebagai salah satu sarana saja, tedy pun dengan tidak melanjutkan justru tetap dapat melebihi kemampuan para murid lainnya kan

kalau tedy sih memang cerdas dari sono nya mas hehe

Mohon agar tidak menyertakan link aktif saat berkomentar!

Back To Top