Sebuah Blog Pribadi Biasa

Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan Poros Kejahatan



Sejak masa Nabi Isa 'alaihisallam wahyu Allah ke bumi terputus selama bertahun-tahun dan berabad-abad hingga seluruh penjuru dan pelosok bumi marak dengan segala bentuk pengingkaran dan penuh sesak dengan segala bentuk kekafiran.

Di abad kebodohan (jahiliyyah) dengan segala tradisinya yang jahili (bodoh), batu-batu pun disembah, anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup, ajaran-ajaran syariat sirna, peperangan demi peperangan berkobar hanya karena sebab-sebab yang sangat sepele. Dunia pun seolah-olah terbenam dalam lumpur kegelapan hingga tak terlihat lagi cahaya maupun siang di dalamnya. Seluruh kabilah dan suku-suku bangsa di dunia pun larut dalam kekafiran dan pengingkaran tuhan. Ada yang menyembah api, ada yang menyembah manusia, dan ada yang menyembah batu dan berhala.

Hati mereka condong, menyukai syahwat-syahwat (kesenangan hedonik) dan mengikuti langkah-langkah setan, sehingga permukaan bumi pun tertutup oleh kegelapan akibat jauh dari syariat-syariat Allah dan dekat dengan syahwat. Kebaikan menyusut dan menghilang, sementara kebobrokan dan syahwat membanjiri bumi. Setan leluasa menggoda dan memprovokasi di antara bangsa-bangsa dan negara-negara, sehingga menyebabkan saling bunuh dan saling tumpas di antara mereka.

Tidak diragukan lagi bahwa klimaks duka lara dan malapetaka merupakan petanda bagi munculnya solusi-solusi penyelesaian dan jalan keluar kebahagiaan dalam waktu dekat, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala,

﴿٥﴾فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
﴿٦﴾إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

"Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Alam Nasyrah (94): 5-6)

Di tengah milieu kehidupan demikian, Allah subhanahu wa ta'ala sengaja menyiapkan bumi untuk menyambut manusia terbaik dan rasul terbaik agar menjadi rahmat dan untuk mengeluarkan ummat manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya.

Setelah ikatan kemusyrikan dan jaringan kekafiran menguat, pasti akan muncul kebenaran yang merobohkan, menghancurkan, dan menghapuskannya, untuk kemudian menggantinya dengan tebaran cahaya dan kebaikan di muka bumi.

Muhammad bin Abdullah shallallahu 'alaihi wa sallam diutus ketika dunia tengah ditimpa goncangan besar nan gempa yang amat sangat dahsyat sehingga segala sesuatu tidak lagi pada tempatnya. Banyak perabot dan perkakas yang rusak, juga banyak yang melengkung dan bengkok, bahkan tak sedikit yang terpisah dari tempatnya dan berada di tempat lain, dan ada pula yang tertimbun.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memandang dunia dengan kacamata para nabi. Dengan kacamata kenabian ia lihat profil manusia yang telah begitu rendah kemanusiaannya hingga bersujud pada batu, pohon, sungai, dan segala sesuatu yang tidak memiliki kuasa memberi manfaat dan mudarat atas diri mereka.

Dengan kacamata kenabian ia lihat profil manusia terbalik yang telah rusak nalarnya, hingga tidak bisa lagi membenarkan kebenaran yang tak terbantahkan dan menalar hal-hal yang sudah gamblang. Pola pikir mereka sudah benar-benar bobrok, sehingga sesuatu yang spekulatif dipandangnya sebagai aksioma (kebenaran yang tak terbantahkan) dan kebenaran yang tak terbantahkan justru dipandangnya spekulatif. Mereka bimbang dalam hal-hal yang sudah jelas dan malah percaya dalam hal-hal yang meragukan. Cita rasa mereka juga sudah kacau, hingga yang pahit dianggapnya manis, yang busuk dianggapnya baik, dan yang menyakitkan dianggapnya menyenangkan. Perasaan mereka pun sudah tumpul, hingga tak membenci musuh yang zalim dan tak menyukai teman yang suka memberi nasihat.

Dengan kacamata kenabian ia lihat masyarakat yang merupakan gambaran mikro alam benar-benar telah kacau balau. Di sana segala sesuatu tak lagi berada pada proporsi dan tempatnya. Di sana serigala menjadi pemimpin, musuh yang semena-mena menjadi hakim, penjahat menjadi orang mulia dan bahagia, sementara orang yang saleh menderita dan terhina. Di sana sesuatu yang ma'ruf dianggap paling mungkar, dan sesuatu yang mungkar dianggap paling ma'ruf.

Dengan kacamata kenabian ia lihat adat-istiadat busuk yang mempercepat kebinasaan umat manusia dan menyeret mereka pada kehancuran. Dilihatnya kebiasaan menenggak khamr (minuman keras) yang sudah sampai pada batasan kecanduan, praktik prostitusi dan asusila yang sudah sampai pada batas terang-terangan, dan praktik riya' yang sudah sampai pada batas menyerobot dan merampas milik orang. Dilihatnya ketamakan dan ambisi pada harta telah sampai pada batas rakus dan amat rakus. Dilihatnya kekejaman dan kezaliman telah sampai pada batas membunuh dan mengubur anak hidup-hidup.

Dengan kacamata kenabian ia lihat penguasa-penguasa yang semena-mena menjadikan bumi Allah sebagai kerajaan dan hamba-hamba Allah sebagai budak. Dilihatnya para rahib dan pendeta telah menjadi tuhan-tuhan selain Allah yang memakan harta manusia dengan batil dan menghalang-halangi dari jalan Allah.

Dengan kacamata kenabian ia lihat talenta-talenta manusia tersia-siakan dan tak termanfaatkan, serta tanpa pengarahan yang baik, sehingga menjadi bencana bagi pemiliknya sendiri dan bagi segenap manusia. Keberanian telah berubah menjadi kesembronoan, kedermawanan menjadi pemborosan, kebanggaan menjadi fanatisme jahiliah, kecerdasan menjadi keculasan, akal dijadikan sebagai sarana merancang kejahatan, dan kreativitas dijadikan sebagai sarana menyenangkan syahwat.

Dengan kacamata kenabian ia lihat sosok-sosok manusia dan institusi kemanusiaan seperti bahan-bahan mentah yang tak menemukan seorang pembuat yang cerdas yang memanfaatkannya untuk membangun kerangka peradaban, seperti batangan-batangan kayu yang tak menemukan seorang tukang kayu yang mengolahnya menjadi sebuah kapal yang membelah samudera kehidupan. Dengan kacamata kenabian ia lihat rakyat seperti gerombolan domba yang tak bergembala, politikus seperti unta yang terlepas tali kekangnya, dan penguasa seperti pedang di tangan pemabuk yang digunakannya untuk melukai dirinya dan melukai anak-anak dan saudara-saudaranya.

Dari sinilah kenabian (bi'tsah) dideklarasikan, yaitu untuk menyatukan jalan yang tercerai-berai, mengembalikan masyarakat yang telah tenggelam dalam kesesatan mereka, membuang kejahiliahan yang telah meremukkan punggung mereka, membuka pintu rahmat bagi mereka, dan memadamkan kekebalan yang telah dinyalakan di dalam hati para tiran yang semena-mena.

Sudah menjadi sebuah keharusan bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menangani fenomena dan paradigma tersebut, serta meluruskan orientasi dan langkahnya. Hal itu tentu bukan pekerjaan yang mudah, sebab beliau hanya sendirian dan menghadapi berbagai komunitas yang memiliki paradigma yang beragam, pola pikir yang berlainan, dan status/kondisi yang bervariasi: ada yang budak dan ada yang majikan, ada yang miskin dan ada yang kaya, ada yang cerdas dan ada yang tidak. Di sinilah letak kesulitannya, sebab jika seandainya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hanya menghadapi orang satu kampung, tentu beliau mengetahui faktor yang dominan di sana dan mengidentifikasi kebiasaan penghuninya, namun beliau diutus untuk segenap umat manusia dengan segala keragaman keyakinan mereka, status dan kondisi mereka, serta bahasa yang mereka gunakan.

Sumber bacaan:
("Air Mata Nabi: Sad Management Ala Nabi" oleh Abu Abdurrahman Al Mishri)
Tag : Islam
0 Komentar untuk "Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan Poros Kejahatan"

Mohon agar tidak menyertakan link aktif saat berkomentar!

Back To Top