Sebuah Blog Pribadi Biasa

Legenda Pendekar Merpati Bagian 1

Malam yang gelap mencengkam, hanya terdengar suara tak merdu dari anjing, jangkrik dan kodok di desa Bimbang Menggelora. Bila siang hari tiba, awan selalu menutupi sinar matahari, dan musim kemarau panjang tak dapat dicegah, walau sebenarnya mencegah itu lebih baik daripada mengobati ya kan? Karena tidak panas dan tidak pula hujan, maka kini sudah tak ada lagi warga desa yang membawa payung saat keluar rumah, apalagi membawa payung hitam, karena payung hitam hanya milik Iis Dahlia saja.

Di sebuah gubuk kecil yang terbuat dari bambu dan beratapkan daun pandan, tampak seorang wanita yang sedang memutar musik melalui telepon seluler. Sheila, seorang janda muda yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya akibat insiden menelan jarum jahit dan silet saat melakukan atraksi debus, sedang mengelus-ngelus perutnya. Ia sedang hamil 9 bulan lebih, dan bersiap-siap menyambut kelahiran anak pertamanya. Banyak pria hendak meminangnya, namun ia lebih memilih untuk hidup menjanda agar bisa mendapatkan gaji pensiunan suaminya setiap bulan. Dahulu suaminya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil dan sesekali bermain debus. Karena suaminya sudah meninggal, maka ia mendapat hak waris berupa uang pensiunan untuk janda PNS.

Sheila jarang keluar dari gubuk kecilnya. Selain karena sedang hamil tua, ia memang ingin menghindari tahi ayam. Bukan karena percaya kepada tahayul, tapi karena ia tak ingin tertipu lagi oleh tahi ayam. Ia pernah memungut tahi ayam di jalan karena menyangka bahwa itu adalah batu cincin. Sheila juga tidak terlalu suka berlama-lama pergi ke warung di sekitar gubuknya, karena di warung tidak ada tangga eskalator. Ia sesekali pergi ke minimarket untuk melihat-lihat saja. Ia tidak belanja di sana. Kalau cuaca sedang panas, ia mencari bilik ATM terdekat untuk menikmati sejuknya AC, sambil berpura-pura menarik uang dari mesin ATM.

Sejak kecil Sheila sudah diajarkan orangtuanya untuk bercocok tanam. Ia kini menanam granat dan ranjau di depan rumahnya. Sheila dahulunya memiliki seekor burung merpati raksasa dengan tinggi tiga meter. Tapi sekarang merpati itu hilang tak tahu kemana. Ia pergi jauh setelah suami Sheila meninggal. Mungkin merpati tersebut merasa terpukul sekali. Dahulunya, merpati raksasa itu adalah sahabat baik suaminya. Suaminya sering diantar ke kantor dengan menaiki merpati tersebut. Bahkan kadang-kadang merpati itu mengajak suami Sheila pergi ke pertunjukan musik dangdut yang sering diadakan seminggu sekali di desa Bimbang Menggelora.

Kini Sheila hanya tinggal sendirian di gubuknya. Suaminya hanya meninggalkan harta yang lumayan setelah meninggal. Sheila sebenarnya memiliki rumah kontrakan sebanyak 5 kamar. Namun ia lebih memilih tinggal di gubuk yang hanya terbuat dari bambu. Ada sensasi dan kenikmatan tersendiri saat tinggal di gubuk bambu seperti itu. Hanya ia sendiri yang bisa menjelaskannya. Bahkan saya sendiri tidak mengetahuinya walaupun saya adalah penulis cerita ini.

Di malam itu, dari luar gubuk terdengar suara berisik, namun Sheila tidak menaruh rasa curiga. Kemudian suara berisik itu makin keras dan mengganggu istirahatnya di malam itu. Ia mulai tak tenang, kiranya ada seseorang yang hendak berbuat jahat kepadanya. Namanya juga janda muda, cantik pula, tentu banyak lelaki yang tergoda kepadanya. Sheila memberanikan diri untuk melihat apa yang terjadi di luar gubuknya. Ia mengambil sebilah bambu dan saos tomat untuk jaga-jaga. Ia perlahan-lahan membuka pintu sambil menarik nafas yang dalam.

"Neng, mau beli martabak manis?", ucap seorang lelaki.

"Ya boleh bang, pesan porsi kecil aja yah", jawab Sheila.

Setelah beberapa menit, martabak manis pun selesai dimasak oleh si penjual martabak tersebut. Sheila pun masuk ke gubuknya kembali. Ia menyantap martabak manis dengan penuh suka cita sambil menonton pertandingan Liga Champions antara Juventus menghadapi Real Madrid di tv.

Saat sedang asyik menonton tv, ia kembali mendengar suara aneh lagi di luar gubuknya. Kali ini suara itu seperti rintihan wanita yang menangis pilu. Sheila tampak merinding, ia berpikir bahwa itu adalah suara kuntilanak. Awalnya, ia ketakutan dan tidak berani untuk melihat ke luar, namun akhirnya ia memberanikan diri untuk melihat siapa yang sedang menangis. Ia mengambil botol kosong untuk menangkap hantu tersebut. Dan sekali lagi ia membuka pintu dengan penuh rasa cemas.

"Huhuhu.....", suara wanita yang sedang menagis.

Wanita ini berambut panjang sampai ke pinggulnya. Ia mengenakan pakaian serba putih dan ukurannya cukup longgar. Wajahnya putih, daerah di sekitar matanya menghitam. Kakinya tidak menyentuh tanah. Sangat mencurigakan sekali. Sangat menakutkan sekali

"Bu Cindy, ngapain malam-malam nangis di depan gubuk saya?", tanya Sheila.

"Saya sudah tujuh malam gak bisa tidur mbak, makanya saya nangis", jawab Bu Cindy yang tampak mengenakan daster putihnya, wajahnya penuh dengan masker yang terbuat dari beras Jepang.

"Lalu apa yang ibu lakukan saat gak bisa tidur begini?"

"Saya bermain skateboard semalaman sampai rasa ngantuk datang."

"Masuk aja ke dalam gubuk saya, ada martabak manis loh! Kita makan sama-sama."

Oke deh, boleh juga tuh."

Akhirnya Bu Cindy masuk ke dalam gubuk milik Sheila. Mereka asyik makan martabak manis sambil nonton bola. Sesekali mereka membahas masalah yang sedang hangat di sekitar mereka.

"Menurut Bu Cindy, siapa yang akan menjadi kepala desa kita selanjutnya?"

"Pak Sumar aja deh. Saya suka sama beliau."

"Alasannya apa Bu?"

"Karena kumisnya bagus hehe. Saya suka merinding kalau ketemu beliau."

"Ah itu sih bukan alasan yang tepat Bu". Saya lebih suka Pak Jono. Karena beliau kalau ngasih sumbangan gak pernah nyebutin nama."

 "Ohhh, beliau pasti cuma nulis 'Hamba Tuhan' di amplop ya? Beliau pasti gak ingin pamer."

"Bukan Bu, beliau cuma nulis alamat lengkap rumahnya aja, beserta nomer ponselnya".

"Ohhh pintar sekali beliau ya mbak Cindy".

"Emberrr hihihi", Sheila tertawa geli.

Tiba-tiba keluarlah seekor kucing hitam dari balik pintu. Sheila memang tidak menutup rapat pintu rumahnya. Kucing itu lewat dan melompati perut Sheila yang sedang mengandung.

"Awwww.... Awwww....", Sheila menjerit kesakitan.

"Ada apa mbak Sheila?", Bu Cindy bingung kenapa Sheila menjerit kesakitan.

"Bayi di dalam perutku hendak keluar nih..., mungkin karena kucing hitam tadi. Awwww... awww...."

"Apa yang harus saya lakukan? Saya ingin membantu mbak Sheila melahirkan".

"Tepuk-tepuk saja punggung saya Bu."

"Baiklah kalau begitu, saya akan menepuk-nepuk punggung mbak Sheila".

Bu Cindy pun melaksanakan permintaan dari Sheila. Ia menepuk-nepuk punggung Sheila dengan irama dum-dum-tak-dum-dum-tak. Tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi. Ada sesuatu yang keluar dari tubuh Sheila.

"Owekkk..., owekkk...", bunyi seorang bayi yang sedang menangis.

"Akhirnya anakku lahir juga", Sheila tersenyum kegirangan.

"Wah hebat, sudah melahirkan, gak perlu bidan atau dukun beranak lagi", Bu Cindy merasa takjub dengan kejadian yang dialami oleh Sheila.

"Anak ini akan ku beri nama 'Tedy' saja", ujar Sheila.

"Bagaimana kalau ditambahi 'Farison' sebagai nama belakangnya?", tutur Bu Cindy.

"Ya sudah, mulai sekarang anak ini bernama Tedy Farison", ucap Sheila sambil makan martabak manis.

Anak inilah yang akan menjadi pendekar besar legendaris nantinya.


>>>>> Mudah-mudahan bersambung <<<<<


Tag : Fiksi
12 Komentar untuk "Legenda Pendekar Merpati Bagian 1"

Haha aku sempat mau teriak! Awas ada kucing!!! Yah keburu lahir deh bayinya
Jadi ingat, jangan asal pungut kalau menemukan sesuat di jalan, nah benerkan disangka rezeki ... Eh benerkan tahi ayam

aku doakan sambungannya cepat tetbit aamiin

haha, nah saya malah bingung lanjutan ceritanya kayak gimana nih,,,, lagi mikir keras

wihh keknya seru nih gan :D

lihat foto bayinya ngakak hahaha

itulah hebatnya blog saya, orang gak perlu baca tulisannya, mending lihat gambarnya aja.

Saya juga tidak mau tertipu lagi dengan tahi ayam, takut di pegang terus di jilat setelah itu bilang "ternyata benar tahi ayam, untung ngga di injek" :-d

diinjak juga gak apa-apa mas

Mohon agar tidak menyertakan link aktif saat berkomentar!

Back To Top