Sebuah Blog Pribadi Biasa

Ketika Harus Hidup Menepi



Assalamu'alaikum. Aduh judulnya seperti hendak curhat saja yah! Hehehe sebenarnya memang ada curhatnya juga sih, makanya bisa buat tulisan seperti ini. Walaupun sebenarnya gak penting banget, tapi saya pengen nulis apa saja yang bisa saya tulis. Siapa tahu teman-teman memiliki unek-unek atau pemikiran yang sama dengan saya.

What? Hidup menepi? Mau menepi kemana emangnya? Hehehe sabar, jangan pikir bahwa menepi itu artinya hilang dari peredaran dan tidak berkomunikasi serta berinteraksi dengan siapapun. Bukankah manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari interaksinya? Gila banget kalau ada manusia yang tidak mau bersosialisasi, dan hanya mengurusi semua urusan secara sendirian. Bahkan Nabi pun tidak hidup menyendiri, beliau hidup dengan banyak cinta dari sahabat dan keluarganya. Jadi kenapa harus menjadi manusia yang kaku dan antisosial?

"Menepi" yang saya maksud adalah hidup dengan membatasi diri agar hidup lebih terarah dan lebih tenang. Kenapa harus membatasi diri? Kadang saking hebatnya fitnah dunia itu membuat seseorang menjadi pribadi yang lupa, hilang jati diri, tidak terarah. Bukan tidak mungkin seseorang terjebak ke dalam sifat membanggakan diri sendiri di hadapan orang lain. Biasanya fitnah seperti ini tanpa disadari bisa membuat seseorang terkungkung ke dalam perbuatan "membohongi" diri sendiri. Yang tidak ada dikatakan ada, dan sebaliknya. Pujian,,, yah pujian itulah yang diharapkan.

Ketika kita menepi, kita berusaha agar diri kita bisa mengendalikan diri kita dari perbuatan yang dianggap sia-sia. Ada kalanya kita merasa jenuh terhadap perkara yang membuang-buang waktu, energi, pikiran serta materi kita. Mungkin saja kita jenuh dengan pergaulan yang kurang sehat dan kurang memberikan manfaat bagi kita. Dari situlah kita bisa menepi agar bisa memproteksi diri, karena semakin diladeni semakin tidak baik. 

Menepi bisa bermanfaat agar diri kita tak terjebak ke dalam popularitas. Capek loh kalau setiap hari selalu memaksakan diri untuk menjadi terkenal dan diakui eksistensinya. Kadang kita ingin dikenal sebagai sosok yang berbeda (eksklusif) dari yang lainnya seolah-olah kita ini adalah orang yang istimewa. Dan ada juga yang bertipe inklusif, merasa bahwa dirinya sama dengan yang lain, ingin diakui sebagai pribadi yang biasa-biasa saja, dan tak ingin disebut eksklusif. Padahal keduanya itu sama saja, ingin dibilang istimewa! Niat kalau sudah salah, maka hasilnya pun akan beda.

Menepi hanya merapat ke pinggir. Ketika ia merapat ke pinggir, ia merasa lebih aman dan lebih nyaman. Namun ia tak menutup akses terhadap orang-orang yang berada di tengah untuk berinteraksi dengannya. Ia mengasingkan diri tapi dalam batas yang wajar. Mungkin saja ia ingin hijrah dari pribadi yang buruk menjadi pribadi yang lebih baik. Soalnya dia takut jika semakin ke tengah, maka semakin sulit baginya untuk berubah.

Namun perlu diperhatikan. Kalau perilaku menepi membuat kita bangga, maka berpindahlah ke tengah. Dan ketika kita merasa bangga saat di tengah, maka menepilah. Keduanya memiliki fitnah (ujian) yang sama besarnya. Sekarang tanyakan pada diri kita, apakah kita merasa istimewa ketika kita tidak terlalu diketahui keberadaan kita dan semakin tak dikenal? Kalau iya, maka itu tandanya kita telah salah niat! Saat itu menepi kita pada hakekatnya bukanklah menepi tapi bergeser ke tengah. Seolah hendak menepi tapi tepian terasa amat jauh dijangkau.

Menepi bisa saja menjadi batu loncat kita untuk hijrah. Setelah jenuh semakin mendera, maka hijrah bisa menjadi obatnya. Mungkin selama bertahun-tahun kita lelah dengan buruknya gaya hidup yang tiada berkesudahan. Semakin dituntut semakin mengikis ketentraman hati. Maka saat itulah kita menginginkan ketenangan sejati, melepaskan semua tipu daya dunia yang semakin menjerat dan membelenggu diri kita.

Tidak mudah untuk benar-benar bisa menepi, karena godaan dari tengah bisa menarik kita ke posisi tengah kembali. Yang kita perlukan adalah kesungguhan hati dan kemantapan jiwa untuk bisa merubah kebiasaan lama kita yang kurang baik menjadi lebih baik. Optimis saja bahwa kita bisa melakukannya dalam setiap kesulitan. Orang yang optimis selalu melihat mencari kesempatan di dalam kesempitan, dan orang yang pesimis selalu mencari kesempitan di dalam kesempatan. Ketika ada kesempatan untuk berubah, maka Gunakanlah kesempatan itu. Semoga menepi kita bisa merubah keadaan kita menjadi lebih baik. Allahu muwafiq.
Tag : Catatanku
12 Komentar untuk "Ketika Harus Hidup Menepi"

kadang kita butuh untuk menyendiri, merenungi perjalanan hidup yang sudah kita lewati
menepi untuk lebih baik itu boleh-boleh saja, tapi menepi karena merasa telah baik berhati-hatilah, karena menepi pun tidak akan bisa sembunyi dari yang maha mengetahui dan menepi juga akan selalu ada yg mengikuti yg bisa membuat kita tergelincir hati

nah itu dia, ketika diri sudah merasa baik maka disitulah letak salahnya, karena yang tau hanya Allah. semakin merasa dirinya baik itu tandanya ia belum baik.

Suka mas tulisannya.
Menepi.emang diperlukan sehingga tak mudah ikut arus orang

kadang memang harus seperti itu, kejenuhan akan hal-hal yang tidak bermanfaat bisa muncul pada waktunya

saya suka dengan istilah menepi. dan saya suka menepi. memilih berada di pinggir gelanggang, melihat dari tepian. Rasanya bisa melihat lebih objektif dan berpikir lebih jernih.

berada di tepian terasa lebih aman dan nyaman mbak, hidup lebih terarah dan tidak mudah ditabrak ataupun menabrak

Setuju mas dengan tulisannya..Dimana sekarang banyak orang yang suka grusu grasa ya...suka memancing suasana. Kitanya yang hrs bisa menepi, menahan diri dan berhati-hati jangan sampai menyakiti orang lain.

iya, kalau keadaan di tengah lg kacau, kita pergi ke tepian saja. Thanks udah mampir mbak

berhenti sejenak dan melihat kebelakang kadang justru yang membuat kita lebih maju lagi

mungkin bisa seperti itu juga mas

Mohon agar tidak menyertakan link aktif saat berkomentar!

Back To Top