Sebuah Blog Pribadi Biasa

Mengenal Banci Lebih Dekat

Bismillah...

Pernahkah Anda berteman atau hanya sekedar kenal dengan pria yang berpostur tubuh jantan, namun memiliki sifat dan sikap, dan gestur tubuh seperti perempuan? Masyarakat seperti ini biasa menyebut mereka dengan julukan waria, bencong atau banci. Populasinya cukup banyak jika dibandingkan dengan perempuan yang menyerupai laki-laki (priawan).

Dalam fiqih Islam, kita mengenal istilah mukhannats (banci/bencong), mutarajjilah (wanita yang kelelakian), dan khuntsa (interseks/berkelamin ganda).

Masing-masing dari istilah ini memiliki definisi dan konsekuensi berbeda. Akan tetapi, dua istilah yang pertama biasanya berkonotasi negatif, baik di mata masyarakat maupun syariat. Sedangkan yang ketiga belum tentu demikian.

Dari Ikrimah radhiallahuanhu, "Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melaknat para lelaki yang menyerupai wanita, dan para wanita yang menyerupai laki-laki'". (HR al-Bukhâri dalam Shahîhnya, no. 5885)

Singkatnya bahwa jenis banci terbagi menjadi dua,

Pertama: Banci alami. Yaitu seseorang yang ucapannya lembut dan tubuhnya gemulai secara alami, dan ia tidak dikenal sebagai orang yang suka berbuat keji. Maka orang seperti ini tidak dianggap fasik. Dia bukan orang yang dimaksud oleh hadits di atas sebagai objek celaan dan laknat.

Kedua: Banci karena sengaja meniru-niru kaum wanita, dengan melembutkan suara ketika berbicara, atau menggerakan anggota badan dengan lemah gemulai. Perbuatan ini adalah kebiasaan tercela dan maksiat yang menjadikan pelakunya tergolong fasik.

Pembagian ini juga berlaku bagi wanita yang menyerupai laki-laki (waria). Sebab pada dasarnya kaum wanita juga terkena perintah dan larangan dalam agama sebagaimana laki-laki, selama tidak ada dalil yang mengecualikannya. Jadi, bagi teman-teman khususnya cowok yang dengan sengaja berperilaku seperti cewek, maka mulai dari sekarang coba hentikan kebiasaan tersebut yah! biggrin biggrin biggrin

Ngomong-ngomong tentang banci ini, saya memiliki seorang teman yang kebetulan cukup akrab dengan para banci yang mayoritas bekerja di salon dan tata rias. Alasan beliau mau berteman dengan para banci tersebut ialah karena mereka juga makhluk Allah yang seharusnya diajak berteman, bergaul, bicara dan bercerita. Di BBM terkadang banci-banci tersebut curhat dengan beliau tentang kehidupannya. Mulai dari cerita cinta, kegalauan dan derita karena dilahirkan sebagai banci. Tak pelak teman saya ini sering merasa kasihan kepada mereka.

Jika hendak memotong rambut, maka beliau sengaja pergi ke salon yang ada bancinya, agar bisa bicara dan mendengarkan cerita mereka. Menurut beliau, banci itu sangat baik dan ramah jika kita mau berteman dengan mereka. Walaupun terkadang isi omongan mereka lebih banyak yang ngawur, misalnya tentang niat mereka untuk menjadi wanita seutuhnya dan menikah dengan laki-laki. Dalam hal seperti ini, teman saya sering menawan tawa saat banci mengutarakan niat nyeleneh tersebut di hadapannya karena khawatir jika si banci akan tersinggung, namun ia bisa tertawa terbahak-bahak jika curhatan tersebut dilakukan hanya lewat BBM. Lumayan bisa jadi obat anti stres katanya.

Teman saya ini suka iseng. Saya hampir setiap hari ditawari oleh teman saya tersebut untuk menikahi para banci tersebut. Mulai dari banci yang kalem, berhijab, suka shalat pakai mukenah, sampai banci yang suka ngomong kotor. Tentu saja saya menolak tawaran gila tersebut. Lahhh emangnya bisa dapat keturunan kalau menikah sama mereka?

Ada satu kejadian menarik di sekitar sini. Beberapa waktu yang lalu ada seorang TNI yang memotong rambut di salon yang ada bancinya. Setelah rambut selesai dipotong, eh ternyata oknum TNI ini tidak mau bayar dan malah membentak-bentak si banci tadi. Bukannya takut, si banci ini malah memanggil banci-banci yang lain untuk mengeroyok si oknum TNI. Dalam kondisi seperti ini, banci bisa berubah mengeluarkan naluri lelakinya, malah si oknum TNI tadi yang jadi banci karena ketakutan dan lari.

Jadi makna banci itu bisa juga mengalami pergeseran. Laki-laki yang penakut, pengecut dan tidak mau bertanggung jawab juga bisa disebut sebagai seorang banci. Jadi kalau tidak mau disebut banci, ya harus berperilaku jantan. Bukan berarti harus ikut-ikutan berkelahi, minum minuman keras, ngebobol ATM atau nyongkel kaca spion kendaraan orang, serta melakukan hal-hal tidak baik yang dianggap sebagai pembuktian seorang laki-laki sejati.

Kalau Anda pernah membaca beberapa tulisan mengenai fiqih banci ini dari para ulama, maka Anda akan menemukan banyak sekali tahdzir (peringatan) keras bahkan ada pula yang berpendapat bahwa mereka harus dihukum. Ini menunjukkan bahwa kita sangat-sangat dilarang menyerupai lawan jenis. Dan bagi Anda yang sejak lahir memang sudah berperawakan dan berpembawaan seperti lawan jenis (tanpa disengaja), dan susah dihilangkan, maka bersabarlah, karena itu adalah ujian bagi Anda. Dan Anda akan mendapatkan pahala atas kesabaran Anda tersebut, in sya Allah.
Tag : Catatanku
0 Komentar untuk "Mengenal Banci Lebih Dekat"

Mohon agar tidak menyertakan link aktif saat berkomentar!

Back To Top